Translate

Selasa, 22 September 2015

Filsafat Barat Pra-Sokrates

BAB I
 PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Jauh sebelum manusia mengetahui dan menetapkan istilah Tuhan, banyak orang yang berfikir bahwa yang menciptakan dan menguasai alam semesta adalah hakikat yang bisa dilihat dan berada di kehidupan sekitar mereka, seperti api, air, tanah, dan udara.
Beberapa orang seperti kaum sofisme di Yunani berpikir dan mencari tahu tentang alam semesta ini, penciptanya beserta isinya. Siapa yang membuatnya, bagaimana alam ini tercipta, dari mana alam ini berasal. Mereka tidak puas terhadap cerita-cerita nenek moyang tentang terjadinya alam ini. Oleh karena itu, mereka menggunakan akal pikiran mereka untuk mencari kebenaran dan realitas Yang Ada. Pemikiran tersebut termasuk pemikiran yang maju dan rasional.
Sebab, sebagian dari mereka sudah cukup puas dengan apa yang didapat dari kisah-kisah nenek moyang secara turun-temurun tentang terbentuknya alam ini. Mereka percaya tentang mite-mite dan legenda, seperti pelangi adalah tempat turunnya para bidadari dari surga.
B.  Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, maka dapat ditarik rumusan masalah:
1.      Siapa saja filsuf pra-Sokrates ?
2.      Bagaimana pokok-pokok pemikiran filsuf pra-Sokrates ?












BAB II
    PEMBAHASAN

A.    Filosofi Alam
Filsafat lahir pertama kali bukan di tanahnya sendiri, melainkan di kota Melitos daerah Semenanjung Asia. Filsafat ini bermula dari orang-orang yang memikirkan asal mula alam ini tercipta. Oleh karena itu, mereka disebut filsuf alam.
Mereka berpikir bahwa asal dari segala sesuatu itu adalah sesuatu yang berada di sekitar mereka, seperti air dan udara. Bahkan, ada yang masih menganggap bahwa benda mati itu juga mempunyai jiwa.
1.      Thales
Filosof pertama bukanlah berasal dari Yunani, melainkan dari kota Miletos di Asia Minor. Masa hidup tahun Thales sekitar 80 tahun, yakni 625-545 SM. Dia adalah seorang saudagar yang banyak berlayar ke negeri Mesir, ia juga seorang ahli politik. Ia juga seorang filsuf yang berusaha menemukan arkhe(asas atau prinsip) alam semesta. Thales termasuk orang yang disebut “Seven Wise Man” pada waktu itu. Ketujuh orang bijak itu adalah Thales dari Miletos, Bias dari Priene, Pitakos dari Mytilene, Soloon dari Athena, Kleoboulos dari Lindos, Khiloon dari Sparta, dan Periandros dari Korinthos.[1]
Ia juga merupakan ahli matematika pertama dan mendapatkan gelar the father of deductive reasoning(bapak penalaran deduktif). Sebab, ia mengemukakan bahwa bulan bersinar karena memantulkan cahaya matahari, menghitung terjadinya gerhana matahari, dan bahwa kedua sudut alas dari suatu segi tiga sama kaki adalah sama besarnya.[2]
Dia diberikan gelar Father of Philosophy, sebab dia adalah orang yang pertama kali berfilsafat dan tidak pernah menuliskan apa yang diajarkannya. Gelar itu diberikan karena ia mengajukan pertanyaan yang amat mendasar yang jarang diperhatikan orang hingga saat ini : What is the nature of the world stuff? (apa sebenarnya bahan alam semesta ini?)[3]
Ia  sendiri menjawab air. Menurut keterangan Aristoteles, kesimpulan ajaran Thales ialah “semuanya itu air”. Air yang cair itu adalah pangkal, pokok dan dasar (principe) segala-galanya. Semua barang berasal dari air dan kembali pada air pula. Air yang satu itu adalah bingkai dan juga isi. Air adalah substract (bingkai) dan substansi (isi) kedua-duanya.[4]
Alasan Thales mengapa semuanya itu air adalah air itu penting bagi kehidupan. Ia menyimpulkan hasil pengamatannya dalam kehidupan sehari-hari. Di mesir, ia sendiri melihat betapa pentingnya air sungai nil bagi kehidupan rakyat di sana. Air sungai Nil dapat memberikan kehidupan rakyat di sekitarnya, tanah pun menjadi subur karena alirannya. Jika sungai Nil tidak mengalir, maka tanah pun kembali menjadi gersang seperti padang pasir dan kehidupan pun hilang. Di pantai Miletos, air tampak sebagai lautan yang luas, sehingga orang mudah berpikir bahwa bumi tentu keluar dari air itu dan selanjutnya terapung-apung diatasnya(Harun Hadiwijoyono, 1992 : 8).
 Begitu juga dengan nelayan, kehidupan mereka sangat bergantung pada hasil laut. Jika tidak ada air, maka mereka tidak bisa menjalani kehidupan.  Thales juga menganut animisme. Menurutnya, benda mati itu mempunyai jiwa.  Contohnya, jika  besi dan batu api yang digosok sampai panas  maka ia akan menarik benda yang ada didekatnya. Itu adalah bukti bahwa ia memiliki jiwa.
Tidak ada kehidupan tanpa air. Tidak ada satu pun makhluk hidup yang tidak mengandung air dalam tubuh mereka. Sejumlah ilmuwan kedokteran mengatakan bahwa 80% adalah air. [5]Oleh karena itu, air adalah hal yang fundamental bagi kehidupan makhluk hidup.
2.      Anaximandros
Anaximandros termasuk filsuf alam yang kedua, ia hidup dari tahun 610-547 SM. Ia adalah orang pertama yang mengarang traktat dalam kesusasteraan Yunani, dan berjasa dalam bidang astronomi serta geografi. Sehingga, ia sebagai orang pertama yang membuat peta. Berkat karya ciptanya ini, ia berhasil memimpin sekelompok orang membut kota baru di Appolonia, Yunani.[6]
Menurutnya, asal dari segala sesuatu adalah “apeiron[7]. Apeiron itu tidak dapat dirupakan, tidak dapat disamakan dengan segala sesuatu yang terlihat di dunia ini. Sebab, suatu barang yang kelihatan di dunia ini mempunyai batas dan dibatasi oleh lawannya. Itu adalah mustahil jika apeiron mempunyai lawan.  Yang panas dibatasi oleh  yang dingin.  Yang cair dibatasi oleh yang beku. Yang gelap dibatasi oleh yang terang.
Anaximandros membuat teori yang hampir sama dengan teori Thales, semuanya itu terjadi daripada apeiron dan kembali pula pada apeiron. Hal ini dapat terjadi karena adanya perceraian (ekkrisis). Perceraian tersebut memunculkan adanya sesuatu yang berlawanan, seperti yang panas dan yang dingin, dan yang kering dan yang basah. Di dunia ini juga ada hukum keseimbangan. Jadi, jika ada hal-hal yang berlawanan itu ada yang dominan, hukum keseimbangan itulah yang menyeimbangkan keseimbangan dunia.[8]
Perceraian tadi menyebabkan adanya gerak puting beliung yang memisahkan antara yang dingin dan yang panas. Gerakan tersebut menyebabkan terbentuknya bola raksasa dan yang dingin berada di tengah-tengah yang panas. Karena panas itu air lepas daripada tanah dan menjadi kabut. Udara menekan bola itu hingga meletus menjadi sejumlah lingkaran yang berpusat satu.  Tiap lingkaran terdiri dari api yang dibalut udara. Setiap lingkaran itu memiliki satu lubang, yang menjadikan api di dalamnya tampak sebagai bintang-bintang, bulan, dan matahari.
        Menurutnya,  bumi ini berbentuk silinder dan terletak persis di pusat jagad raya, jadi bukan di atas air seperti yang diungkapkan oleh Thales. makhluk yang pertama kali hidup di atas bumi adalah makhluk yang hidup di dalam air. Setelah munculnya daratan, binatang yang mirip ikan tersebut menjadi manusia yang pertama di bumi. Anaximandros juga menganggap jiwa yang hidup itu serupa dengan udara.[9]
Anaximandros juga berpendapat bahwa dulunya ada substansi tunggal pertama dan suatu hukum alam yang berlaku di dunia untuk mempertahankan keseimbangan antara unsur-unsur yang berbeda-beda.[10]
3.      Anaximenes
Anaximenes adalah filsuf terakhir dari filsuf alam yang berkembang di Melitos. Ia hidup pada tahun 588-524 SM. Anaximenes adalah murid Anaximandros.  Baginya yang asal itu mestilah satu daripada yang ada dan yang tampak. Barang yang asal itu adalah udara.[11] Udara itu satu dan tidak berhingga.
Anaximenes mencari tahu asal alam dengan memperhatikan  soal jiwa dalam masyarakat. Jiwa itu menyusun manusia, apabila tidak ada jiwa maka gugurlah manusia tersebut. Alam besar juga karena udara. Udara adalah penyusun segalanya. Manusia tidak akan bisa hidup tanpa udara. Adanya udara mempersatukan segala sesuatu di jagad raya. Hal ini mungkin karena adanya pemadatan atau pengenceran udara.[12]
Ia membedakan pula yang mati dan yang hidup. Bila seseorang telah mati, maka jiwa sesorang tersebut keluar. Makhluk yang sudah mati itu tidak berjiwa. Ia tidak menganut animisme seperti Thales yang menganggap yang mati juga mempunyai jiwa.
Unsur-unsur yang kita kenal seperti air, api, angin, awan, dan batu merupakan hasil dari proses perenggangan dan perapatan yang saling berlawanan. Udara yang  abadi menyebabkan pergerakan dalam dirinya sendiri, dan gerakan inilah yang mengakibatkan adanya perbedaan dan pemisahan antara pelbagai substansi alam.[13]
Menurut Anaximenes, udara dapat membentuk beberapa komponen melalui beberapa pergerakan. Udara yang jarang akan menjadi api. Apabila udara rapat, maka akan menjadi awan. Apabila udara itu basah, maka akan menjadi air hujan.  Jika awan padat maka akan menjadi tanah.[14]

B.     Filosofi Herakleitos
Herakleitos lahir di kota Ephesos, Asia Minor. Ia hidup pada tahun 540-480 SM. Ia masih memikirkan hal yang sama, yakni alam. Ia menyangka bahwa api adalah asal dari segala sesuatu. Sebab, api adalah lambang perubahan, karena api menyebabkan kayu atau bahan apapun yang terbakar menjadi abu.
Tidak ada sesuatu yang tetap di dunia ini. Segala yang ada di dunia ini senantiasa “sedang menjadi”. Sehingga, terkenallah ucapannya Panta rhei, artinya sedang menjadi. Sebagaimana air sungai senantiasa mengalir terus menerus,tidak ada sesuatu yang tetap di dunia ini. Semuanya berubah terus menerus.[15]
Tiap benda terdiri dari hal-hal yang sifatnya berlawanan dan bertolak belakang, tetapi mereka merupakan satu kesatuan. Yang satu adalah banyak dan yang banyak adalah satu. Hal ini segala sesuatu hal yang ada mengandung dalam dirinya pertentangan dari dirinya sendiri. Pertentangan tersebut menciptakan suatu keharmonisan dan keadilan, seperti siang malam, musim panas dan dingin. Segala sesuatu merupakan sintesis dari hal-hal yang bersifat kontradiktif.[16]
“ You can’t step twice into the same river; for the fresh water are ever flowing upon you”( engkau tidak dapat terjun ke sungai yang sama dua kali karena air sungai itu selalu mengalir) itulah perkataan Herakleitos( Prof. Dr. Ahmad Tafsir, 2013: 49). Segala sesuatu itu berlalu dan tiada sesuatu yang tetap. Perubahan terjadi tiada hentinya. Seluruh kenyataan adalah arus sungai. Orang tidak mungkin turun ke sungai dua kali, sebab air sungai itu berlalu, bergiliran, dan bergantian. Demikian halnya segala sesuatu. Tiada yang tetap. Hakekat segala sesuatu adalah menjadi.
Kita memahami bahwa kosmos itu dinamis dan selalu bergerak. Bergerak berarti berubah. Gerak itu menghasilkan perlawanan-perlawanan. Itulah sebabnya ia telah sampai pada kesimpulan bahwa yang mendasar pada alam semesta ini bukanlah bahan dasarnya  seperti yang dibahas oleh filsuf alam, melainkan prosesnya.
Pernyataan “semua mengalir” berarti semua berubah bukanlah pernyataan yang sederhana. Implikasi dari pernyataan ini sangat hebat. Kebenaran itu selalu berubah, tidak tetap. 2x2=4 itu adalah pernyataan hari ini, belum tentu 2x2 itu 4 besoknya. [17]
Herakleitos juga yakin adanya satu asas pertama, yakni api. Segala sesuatu keluar dari api dan akan kembali ke api. Api di sini adalah lambang perubahan. Nyala api senantiasa memakan habis bahan bakar baru. Bahan bakar senantiasa berubah menjadi asap atau debu. Oleh karena itu, api adalah lambang perubahan.
Api ini dipandang sejenis dengan roh, sebab asas hidup ialah api juga. itulah sebabnya api disebut juga logos, yaitu hukum  yang menguasai segala sesuatu. Segala sesuatu terjadi sesuai dengan logos.[18] Hukum ini berlaku bagi alam semesta, bagi hubungan antar manusia dan bagi usaha-usaha yang saling bertentangan pada manusia itu bersatu.












BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, dapat kami simpulkan:
1.      Filsuf pra-Sokrates dibagi menjadi tiga, yakni filsuf alam ( Thales, Anaximandros, dan Anaximenes),  dan Herakleitos,.
2.      Pokok pemikiran filsuf pra-Sokrates, sebagai berikut :
a)      Filsuf alam, yakni membahas tentang dari apa alam semesta ini tercipta. Seperti Thales mengatakan bahwa asal segala sesuatu adalah air. Anaximandros mengatakan bahwa asal segala sesuatu adalah apeiron. Sedangkan Anaximenes menyatakan bahwa segala sesuatu itu berasal dari udara.
b)      Filosofi Heraklitos, yakni membahas tentang  alam pula, melainkan proses alam ini tercipta. Ia juga menyangka api adalah asal dari segala sesuatu. Tidak ada sesuatu yang tetap di dunia ini, segalanya berubah.

B.     Penutup
Demikian makalah ini kami persembahkan, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Apabila ada kekeliruan dalam makalah ini baik berupa tulisan maupun isi, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Mohon kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini. Karena kesempurnaan hanyalah milik Sang Khaliq.










DAFTAR PUSTAKA


Abidin, Zainal, Dr. Pengantar Filsafat Barat. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Cet. II. 2012
Achmadi, Asmoro, Dr. Filsafat Umum. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Cet. II. 1997
Bertens, K, Dr. Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta: Yayasan Kanisius. Cet. I. 1976
Hadiwijoyono, Harun. Sejarah Filsafat Barat 1. Yogyakarta: Kanisius. Cet.VIII. 1992
Hassan, Fuad. Pengantar Filsafat Barat. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya. Cet. III. 2005
Hatta, Mohammad. Alam Pikiran Yunani. Jakarta: UI Press. Cet. III. 1986
Katsoff, Louis O. Pengantar Filsafat Terjemahan dari Elements of Philosophy Dr.  Soejono Soemargono. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya. Cet. IX. 2004
Osborne, Richard. Filsafat untuk Pemula terjemahan dari Philosophy for beginners. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Cet, I. 2001
Tafsir, Ahmad, Prof. Dr. Filsafat Umum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Cet. XX. 2013




[1] Harun Hadiwijoyono, Dr., (Sari Sejarah Filsafat 1), Kanisius,  Yogyakarta, 1992, cet. VIII, h.16
[2] Asmoro Achmadi, Drs., (Filsafat Umum), Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1997, cet. II, H.31
[3] Ahmad Tafsir, Prof. Dr., (Filsafat Umum),  PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2013, cet.XX, h.48
[4] Mohammad Hatta, ( Alam Pikiran Yunani), UI Press,  Jakarta, 1986, cet.III, h. 7-8
[5] Zainal Abidin, Dr., (Pengantar Filsafat Barat), PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2012. Cet. II, h. 86
[6] Asmoro Achmadi, Dr., ibid, h. 32
[7]K. Bertens, Dr., (Ringkasan Sejarah Filsafat), Yayasan Kanisius, Yogyakarta, 1976, cet.I, h. 7
[8] Harun Hadiwijoyono, ibid, h. 17
[9] Mohammad Hatta, ibid, h.10-11
[10] Richard Osborne, (Filsafat untuk Pemula terjemahan dari Philosophy for beginners), Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 2001, cet.I, h, 6
[11] ibid, h. 12
[12] Harun Hadiwijoyono, ibid, h. 18
[13] Louis O. Katsoff, (Pengantar Filsafat diterjemahkan oleh Dr. Soerjono Soemargono) , Tiara Wacana Yogya, Yogyakarta, 2004, cet. IX, h.256
[14] Zainal Abidin, Dr., ibid, h. 87
[15] K. Bertens, Dr., ibid, h.7-8
[16] Asmoro Achmadi, ibid, h.36
[17] Ahmad Tafsir, Prof. Dr., ibid, h.49
[18] Harun Hadiwijoyono, ibid, h. 23

Senin, 17 Agustus 2015

narrative

NARRATIVES
Purpose           : to amuse or entertain the readers with actual or imaginary experiences in difference ways. Narratives always deal with some problems which lead to the climax and then turn into a solution to the problem.
Text organization        : orientation (who were involved in the story, when, and where)
                                     Complication ( a problem arises followed by other problems)
                                     Resolution ( solution to the problem)
Language features       : 
a.       The use of pronoun (a beautiful princess, a huge temple)
b.      The use of connectives (first, before that, then, finally)
c.       The use of adverbial phrases of time and place (in the garden, two days ago)
d.      The use of the simple past tense (he walked away from the village)
e.       The use of action verb ( walk, sleep, wake up)
f.       The use of saying verb (say, tell, ask)
g.      The use of thinking verbs, feeling verbs, verbs of senses ( she felt hungry, she thought she was clever, she smelt something burning)
h.      Fairy tales, fables, myths, tall tales belong to narratives

Example:
Well, my friends, I have a very interesting story. The story is about “batara kala”, a myth from Java. Have you heard about it? No? Never? Please be quiet and listen carefully.
You know, Batara kala was an evil giant. He always killed people, especially children. His hair was made from fire. Everybody was frightened of him.
One day, Batara Guru, the chief god invited all the gods and goddesses to drink sacred water in paradise. The water was called Tirta Amertasari. It means “The water of Immortality”. You know why? Because anyone who drinks this water, he or she will live forever. He or she will never die.
You know what? Batara kala was not invited because he was evil. Then, secretlt he flew into paradise and stole some of the water. Batara Surya, the god of sun and Batari Chandra, the goddess of moon knew what he did. Immediately both of them reported to Batara Vishnu, the keeper god of the universe.
Then Batara Vishnu took his fatal weapon, Cakra and shot it at Batara Kala.
While Batara kala was drinking the water, the cakra hit him on the neck. Batara kala’s body was separated from the head at once. But, since he had drunk the sacred water, his head was alive. He was very furious with Batara Surya and Batari Chandra and swore to take revenge on them.
He chased Batara Surya and Batari Chandra, caught them both and swallowed them up.
Fortunately, Batara Surya and Batari Chandra could escape from Batara Kala’s throat because he no longer had a body. So, Batara Surya and Batari Chandra were safe everytime Batara Kala swallowed them up.
That’s why when there’s a solar eclipse or lunar eclipse, Javanese people believe that Batara Kala is swallowing Batara Surya or Batari Chandra. It’s interesting, isn’t it?
Adapted from javalegend.com
Note:
       Orientation
       Resolution
       Complication

       Major resolution

text organization

TEXT ORGANIZATION
1.      Procedure
a.       Goal
b.      Material
c.       Step

2.      Recount
a.     Personal recount
Ø  Orientation
Ø  Event
Ø  Evaluation
Ø  Re-orientation
b.      Factual recount
Ø  Orientation
Ø  Event

3.      Narrative
a.     Orientation
b.    Complication
c.     Resolution

4.      Descriptive
a.    Identification
b.    Description

5.      News item
a.    Newsworthy event
b.    Background event
c.    Sources

6.      Report
a.    General classification
b.    Identification

7.      Analytical exposition
a.    Thesis
b.    Arguments
c.    Reiteration

8.      Spoof
a.    Orientation
b.    Event
c.    Twist

9.      Hortatory exposition
a.    Thesis
b.    Arguments
c.    Recommendation

10.  Explanation
a.    A general statements
b.    Explanation
c.    Closing

11.  Discussion
a.    Thesis
b.    Argument “for” point
c.    Argument “against” point

12.  Anecdote
a.    Abstracts
b.    Orientation
c.    Crisis
d.   Reaction
e.    Coda

13.  Review
a.         Orientation
b.        Interpretative
c.         Evaluation

d.        Evaluation summation

Rabu, 08 Juli 2015

Cindelaras

Cinderalas
            Once upon a time, there was a kingdom named Jenggala kingdom. The king of Jenggala kingdom is Raden Putra. He has two queens. The first queen is very patient and kind but the second queen is beautiful but arrogant, cruel and jealous to the first queen. She decided to make the first queen out from Jenggala kingdom. She cooperated with the shaman of the kingdom.
Queen 2: excuse me, madam.... are you inside? I need your help. Hurry up! Open the door! (while knocking the door)
Shaman: i am sorry my majesty. Come in, please...(sambil batuk) what can I do for you, my majesty?
Queen 2: i am sick of her. I want to make her go away from my eyes and this world. I want to be the only queen in this kingdom and loved by my king.
Shaman: with my pleasure my majesty, i will do what you want. I have a poison. Give this poison to your drink and you pretend get sick. Say to Raden Putra that the first queen has given the poison to your drink. I am sure that our king will believe you and ask her to go away from this kingdom.
Queen2: thanks a lot shaman. I will do this plan soon.
            Two days later, the second queen did her plan and pretended getting sick. When Raden Putra heard that the second queen was sick, he came to her room while being accompanied by the shaman.
King: what happens with you my queen?
Second queen: i get my drink poisoned. When i drink it, i feel dizzy and want to throw up
King: who poisoned my queen, shaman? (angry)
Shaman: your first queen, my majesty. I saw her this morning.
King: my soldier..
Soldier: yes, my lord
King: i can’t forgive her. I don’t want to see her in my kingdom again. Bring her to the forest and kill her.
Soldier: with my pleasure my lord
            Then, the soldier brought the first queen to the forest. He knew that she was pregnant at that time. So, it was impossible that he would kill her. He realized that this case was planned by the second queen because she disliked with the first queen.
Soldier: don’t worry my majesty, i won’t kill you. But, i will inform to the king that you have been killed.
The first queen: thanks a lot, soldier. But what if raden putra doesn’t believe you?
Soldier: i will kill a rabbit and give the blood of its to my sword. So, i won’t be suspected later. Now, i ask permission to come back. Keep your self and your baby.
            Several months later, the first queen born a baby named Cindelaras. He is very handsome and clever son. In his daily, he always played with the animals in the forest. One day, when he played with his friends, an eagle dropped an egg.
Cindelaras: ehm.... what a kind the eagle is. it meant to give her egg to me. I will treat this egg until cracked.
            3 weeks later, the egg was cracked. Cindelaras treated the chick well until the chick grew with the good feather and strong. Suddenly, there was a strange in his chick. The chick spoke to cindelaras.
Chick: Kukuruyuk.... my lord Cindelaras, the house is in the middle of forest and the roof is made from palm leaves. His father is Raden Putra.
            Cindelaras was surprised and told it to his mother. After that, her mother told why they stayed there. After knowing the truth, cindelaras had intention to tell this truth to  Raden Putra by coming to the kingdom. In the middle way, he saw someone fought cocks. He was challenged to join it.
A man: hey.. child. If you are brave, fight your chicken with mine!
Cindelaras:  it’s okay. I am not afraid.
            Cindelaras’ chicken was hard to defeat. it could fight all chickens that fight with it. And the news about Cindelaras’ strong chicken was heard by the king of Jenggala. Then, he invited cindelaras to the kingdom.
Cindelaras: i come, my majesty. I’m Cindelaras.
King: this son is very handsome and clever. I think he isn’t the son of ordinary citizen.( thought Raden Putra). Cindelaras, i want your chicken fight with mine. If you win, i will give half of my wealth to you. But if you lose, you have to get punishment from me.
Soldier: my majesty, he is still child. Why does he get it?
King: i don’t care whether he is child or adult. This is the rules. Are you brave Cindelaras?
Cindelaras: yes, i am brave my majesty.
            After that, fought cocks was started. Raden Putra’s chicken couldn’t fight with Cindelaras’ chicken. Several minutes later, cindelaras’ chicken won the game and the king was shocked.
King: ok, i will fulfil my promise. I will give half of my wealth to you, Cindelaras.
Suddenly, Cindelaras’ chicken spoke.
Chick: Kukuruyuk.... my lord Cindelaras, the house is in the middle of forest and the roof is made from palm leaves. His father is Raden Putra.
King: is that true that you are my son?
Cindelaras: yes, my majesty. My mother is your first queen.
            Then, the soldier came to Raden Putra and told the truth. He was shocked and surprised. After that, he apologized to Cindelaras and her mother. He picked them up from the forest. After that, he asked to his soldiers to bring his second queen away from Jenggala kingdom.
King: cindelaras, please forgive your dad! I am a bad dad.
Cindelaras: i forgive you, my dad.
King: now, let’s stay here with me. I don’t want to lose you anymore
Cindelaras: but, my mom is still in the forest. I can’t leave her alone.
King: i will ask my soldier to pick her up. We will live in this kingdom together.
  Finally, Cindelaras, his mother and his father lived happily in Jenggala Kingdom. When Raden putra was died, Cindelaras became the king of Jenggala kingdom. He led wisely and loved by his citizens.

-The End-